Petani di Banyuasin Menjerit, Pupuk Langka dan Mahal

Bagikan Ini ke:

Diterbitkan menakar.com | 8 Desember 2021

Masalah Kekosongan Pupuk NPK Bersubsidi di Banyuasin Belum Terurai

MENAKAR.COM- Banyuasin, Petani padi di desa Banyu Urip, kecamatan Tanjung lago, Banyuasin, Sumatera Selatan kembali mengeluhkan kekosongan stok pupuk NPK bersubsidi menjelang masa tanam selama musim akhir tahun 2021.

Akibatnya, sejumlah kelompok tani harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pupuk NPK non subsidi.

Alif, salah seorang Petani di desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, kabupaten Banyuasin mengeluhkan terkait kekosongan pupuk bersubsidi Nitrogen, Phospat, Kalium (NPK) belakangan ini. Dia dan kelompok tani lainnya melaporkan masalah tersebut melalui musyawarah di balai desa setempat.

Dikatakan Alif, kekosongan tersebut memaksa Petani untuk membeli Pupuk non subsidi. Sehingga biaya yang dikeluarkan lebih tinggi.

“Harga pupuk NPK non subsidi Rp 280 -300 ribu per sak isi 50 kg, sekarang mencapai Rp 480-500 ribu,” keluhnya saat ditanyakan terkait harga tersebut.

Adanya kenaikan harga pupuk non subsidi NPK itu dinilai relatif tinggi, diduga juga ada unsur sengaja dinaikkan oleh oknum penjual atau penyedia karena memanfaatkan kelangkaan pupuk NPK bersubsidi yang lagi kosong.

Sementara, ketersediaan pupuk urea di daerah tersebut stoknya sudah tersedia. Petani juga berharap, kedepan ketersediaan pupuk NPK bersubsidi harus menjadi perhatian pemerintah. Alif menuturkan, para kelompok tani setempat berharap, apabila pupuk subsidi resmi di cabut pemerintah untuk bisa mengatur harga eceran tertinggi (HET) pupuk tersebut.

“Kalau harapannya, ya pupuk Subsidi di tambah oleh pemerintah, karena petani saat ini sangat kesulitan pupuk. Sebab harga pupuk non subsidi kemahalan. Atau misal Subsidi pupuk dari pemerintah memang di cabut, tolong pemerintah mengatur harga eceran tertinggi (HET) pupuk non subsidi nya, jangan simpang siur harganya,” tutupnya.(TIM)

Bagikan Ini ke: