Sumsel Berada di Sepuluh Besar Angka Kemiskinan Tertinggi

Bagikan Ini ke:

Diterbitkan Kamis, 18 Februari 2021 : 23:15 WIB ,

PALEMBANG – Sumatera selatan masuk dalam 10 besar angka kemiskinan tertinggi ditingkat nasional. Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) melalui Wakil Gubernur, H Mawardi Yahya angkat bicara setelah Sumsel berada diperingkat 10 nasional dalam kategori masyarakat miskin secara finansial, Kamis (18/2), merupakan hasil pendataan badan statistik nasional kwartal terakhir 2020.

Sponsor

Sponsor

Mawardi menjelaskan, itu dipengaruhi oleh berbagai pembatasan yang diberlakukan pemerintah untuk memutus persebaran pandemi COVID-19. Sehingga aktifitas perekonomian masyarakat juga terhambat.

“Maka untuk meningkatkan kembali perekonomian, masyarakat mesti mulai menyesuaikan aktivitas seperti biasa lagi. Untuk itukan sudah ada Perpres dikuatkan Pergub yang mengaturnya sebagai komitmen (Pemprov) untuk mengatasi tersebut,” ujar Mawardi.

Berita Terkait :  Bu Mita Jualan Obat Metamfetamina Ditangkap Polres Prabumulih, Brantas Pak...

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan (BPS Sumsel) melalui Kabid Statistik Sosial, Timbul P Silitonga mejelaskan statistik angka kemiskinan Sumsel pada kwartal III 2020 cukup tinggi sebanyak 13 persen atau setara dengan 52.490 orang. Persentase tersebut meningkat dibandingkan pada kwartal III tahun 2019, hanya sebesar 12,71 persen.

“Sebelum pandemi terjadi masuk di kwartal I, minggu kedua 2020 angkanya stabil menurun. Tingkat pengangguran terbuka di Sumsel per Agustus 5.51 persen. Sedangkan Kemiskinan tertinggi di Sumsel dialami masyarakat kabupaten Muratara, persentase sebesar 19,12 dan terendah Kota Pagaralam 8,9 persen,” ujarnya.

Sponsor

Ikhwal dampak COVID-19 bagi masyarakat, berdasarkan data outlook 2020 BPS Sumsel tidak berdampak signifikan dalam hal pencapaian kerja berdasarkan kategori waktu kerja.

Berita Terkait :  Sumsel Seriusi Sektor Tani, Penyebabnya Bikin Kaget

“Tingkat pekerja paruh waktu per Agustus 2020 meningkat 27,3 persen dibanding Agustus 2019 berada di 26,53 persen. Meskipun memang, tren pekerja penuh mengalami penurunan dari 64,25 persen pada Agustus 2019 ke 59,99 persen ditahun 2020. Kemungkinan tahun ini juga demikian,” pungkasnya. (Bim/sumeks.co)

Sponsor